Diskusi Satupena, Eka Budianta: Peluang Menjadi Sastrawan Kini Semakin Terbuka
- Penulis : Rhesa Ivan
- Jumat, 21 Juni 2024 11:04 WIB

Ditambahkannya, pada dasawarsa 1920-an, muncul novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar sebagai karya sastra modern Indonesia yang pertama. “Ternyata bukan hanya puja-puji tentang kehidupan di istana, rakyat jelata juga boleh menulis dan mendapat bacaan tentang nasib sendiri,” sambungnya.
Eka mengaku bersyukur pernah bertemu dan berbicara dengan kritikus sastra HB Jassin.
“Almarhum memberikan landasan bahwa karya sastra perlu memiliki etika. Karya sastra juga diharapkan menawarkan cita-cita luhur kepada masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 1: Bali United Perkenalkan Mitsuru Maruoka
“Singkatnya, setiap puisi harus berguna. Bisa sebagai kritik pada penguasa, seperti yang ditulis Rendra. Bisa juga sebagai hiburan dan nasihat, seperti yang ditulis oleh Joko Pinurbo,” kata Eka.
Dalam kenyataannya, kata Eka, masyarakat memerlukan banyak kesadaran. Mulai dari sadar gender, sadar sejarah, sadar ekonomi, sadar hukum, dan sadar nilai-nilai sosial yang dijunjung bersama.
“Saya percaya bahwa munculnya kebebasan yang baru, selalu diikuti tuntunan hidup yang baru,” imbuhnya. ***
Baca Juga: Piala Eropa 2024: Kepahlawanan Jan Oblak Ternoda, Slovenia Berbagi Angka dengan Serbia