Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho
- Penulis : Rhesa Ivan
- Kamis, 04 Juli 2024 10:14 WIB

Dari sahabat menjadi lawan politik, mereka menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya melawan penjajah, tetapi juga tentang bagaimana membangun masa depan yang adil dan sejahtera bagi bangsa.
Di tengah perbedaan yang tajam, mereka tetap menjadi bagian dari sejarah yang mengukir jalan menuju Indonesia merdeka.
-000-
Bung Karno melihat nasionalisme sebagai kekuatan pendorong utama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia percaya bahwa rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap identitas nasional adalah fondasi yang kuat untuk menggerakkan rakyat melawan penjajahan.
Dalam pandangannya, nasionalisme bukan hanya tentang kebebasan dari penjajah, tetapi juga tentang membangun identitas kolektif yang kuat di antara berbagai etnis, agama, dan budaya di Indonesia.
Pada tahun 1945, Soekarno memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Ini merupakan manifestasi dari visi nasionalisme Soekarno.
Pancasila dirancang untuk mengakomodasi keragaman Indonesia dan menjadi panduan bagi pembangunan bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Konsep Marhaenisme juga menjadi bagian integral dari nasionalisme Soekarno. Marhaenisme adalah ideologi yang berfokus pada pembebasan rakyat kecil (Marhaen) dari penindasan ekonomi dan sosial.
Soekarno bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen yang memiliki alat produksi sendiri namun tetap hidup dalam kemiskinan. Dari sini, Soekarno menyimpulkan bahwa sistem ekonomi yang eksploitatif harus diubah untuk menciptakan keadilan sosial.
Soekarno mencoba menggabungkan tiga kekuatan besar di Indonesia—Nasionalisme, Agama, dan Komunisme—dalam satu konsep yang disebut Nasakom.