In Memoriam Usamah Hisyam: Menjalani Hidup Sebagai Penulis, Politikus, Pengusaha, Sekaligus Kiai
- Penulis : Rhesa Ivan
- Senin, 22 Juli 2024 10:00 WIB

Di negara yang mengelu-elukan agama, kok malah korupsi tinggi?
Populasi di negara yang menganggap agama tak lagi penting, kok malah korupsinya rendah?
Kami pun bicara di telepon seluler. “Wah bro, anda mengasuh pesantren ya. Jadi kiai anda sekarang?” ujar saya menggodanya.
Uka tertawa: “Kita mengalir saja bro. Kita kan orang-orang yang fleksibel.”
Waktu itu, Usamah menjadi pengasuh pesantren Tahfizhul Quran (PTQ) Pondok Bambu, Parung, Bogor. Ia rutin berdakwah di sana.
Usamah juga Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia). Sebelumnya ia anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212.
-000-
Uka adalah teman keluarga. Sejak tahun 1980-an, 40 tahun lalu, ketika masa SMA dan mahasiswa, ia sering tidur di rumah keluarga dari sisi istri. Ia bersahabat sangat dekat dengan adik ipar.
Saya sendiri intens berkomunikasi dengan Uka, sejak tahun 2003. Waktu itu, hampir setiap saat kami berjumpa di rumah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas. Bersama, kami membantu SBY untuk menjadi presiden 2004-2009.
Itu era, sosok kiai Uka belum tampak. Ia masih muncul sebagai jurnalis. Ia menyelesaikan studi ilmu jurnalistik di Sekolah Tinggi Publisistik (STP). Sekarang sekolah itu dikenal sebagai Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.