DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Mencari Akar Keluarga di Kebumen

image
Sportyabc.com/kiriman

Di dalam kopernya ada buku,  
dan bendera merah putih.  
Di dalam dadanya,  
ada janji kepada kedua orang tua:  
“Aku akan pulang,
membangun negeri.”

Namun badai politik tahun 1965,  
menggulung habis mimpi.
Mengubah hidup.

Raksasa berperang di desa dan kota.
Di hutan, hewan terpanah.
Di sungai, ikan berdarah.

Baca Juga: Denny JA: SATUPENA Merayakan Kemerdekaan Indonesia dengan Menulis Buku Bersama 40 Penulis dari Sumatra Sampai Papua

Rezim berubah.
Negeri yang mengirimnya belajar kini menolaknya.

Sartono  bagian rezim lama,  
harus ditumpas hingga ke akar.

Surat-surat dari tanah air berhenti.  
Paspor Sartono dicabut.  

Baca Juga: Satrio Arismunandar dalam Diskusi SATUPENA Sebut Filologi Punya Arti Penting Bagi Profesi Penulis Terkait Evolusi Bahasa

“Mengapa negara melupakan kita, Ayah?”
tanya Pubarto saat kecil.  

Tahun demi tahun berlalu.  
Setiap malam, Sartono berdiri di jendela, di apartemen kecil, di kota Moskow.

Salju turun.
Namun Sartono rasakan,
bukan dinginnya malam di Rusia,
tapi hangatnya sore Kota Kebumen,
desiran angin pohon kelapa  
dari desa di Jawa Tengah.
Sartono menyerah.  
Tahun 1970, ia resmi menjadi warga Rusia.  
Harapan pulang semakin jauh.

Baca Juga: Satrio Arismunandar dalam Diskusi SATUPENA: AI Memengaruhi Tetapi Tidak Mengancam Profesi Penulis Keseluruhan

Pubarto tumbuh besar di Rusia.
Tapi Sartono sampaikan pesan itu.
Selalu.
Meyakinkan itu.
Selalu.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait