Catatan Denny JA: Mencari Akar Keluarga di Kebumen
- Penulis : Rhesa Ivan
- Senin, 16 September 2024 09:04 WIB

Di dalam kopernya ada buku,
dan bendera merah putih.
Di dalam dadanya,
ada janji kepada kedua orang tua:
“Aku akan pulang,
membangun negeri.”
Namun badai politik tahun 1965,
menggulung habis mimpi.
Mengubah hidup.
Raksasa berperang di desa dan kota.
Di hutan, hewan terpanah.
Di sungai, ikan berdarah.
Rezim berubah.
Negeri yang mengirimnya belajar kini menolaknya.
Sartono bagian rezim lama,
harus ditumpas hingga ke akar.
Surat-surat dari tanah air berhenti.
Paspor Sartono dicabut.
“Mengapa negara melupakan kita, Ayah?”
tanya Pubarto saat kecil.
Tahun demi tahun berlalu.
Setiap malam, Sartono berdiri di jendela, di apartemen kecil, di kota Moskow.
Salju turun.
Namun Sartono rasakan,
bukan dinginnya malam di Rusia,
tapi hangatnya sore Kota Kebumen,
desiran angin pohon kelapa
dari desa di Jawa Tengah.
Sartono menyerah.
Tahun 1970, ia resmi menjadi warga Rusia.
Harapan pulang semakin jauh.
Pubarto tumbuh besar di Rusia.
Tapi Sartono sampaikan pesan itu.
Selalu.
Meyakinkan itu.
Selalu.