Catatan Denny JA: Mencari Akar Keluarga di Kebumen
- Penulis : Rhesa Ivan
- Senin, 16 September 2024 09:04 WIB

“Kau orang Jawa, Nak.
Tanah leluhurmu itu Indonesia.
Suatu hari kau harus ke sana.
Menjenguk makam Kakek dan Nenek.
Di dinding, peta Indonesia tetap tergantung.
Waktu membuat peta memudar.
Sartono mati.
Pubarto tepati janji.
Sampailah ia di Kebumen.
Di hadapan makam Kakek dan Nenek,
di bawah pohon kelapa yang rindang,
Pubarto duduk,
menyentuh makam,
memandangnya.
“Kakek, Nenek,
Kubawa dua cincin Ayah.
Sesuai wasiat,
Ayah ingin cincin ini,
dipendam di makam Kakek dan Nenek.
Sebagai tanda.
Cinta Ayah pada Kakek,
pada Nenek,
dan pada tanah Kebumen,
tak pernah pudar.”
Angin berhembus lembut,
membawa senyuman Kakek,
menyampaikan air mata Nenek,
untuk Cucu, yang tak pernah dikenalnya,
untuk Anaknya, Sartono, yang tak pernah kembali.
Jakarta, 16 September 2024***
CATATAN
1. Kisah ini diinspirasi dan ditambahkan fiksi dari kehidupan nyata mahasiswa Indonesia, Sartoyo, yang terputus dengan tanah air akibat pergantian rezim pada tahun 1966.