DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Catatan Denny JA: Tak Kutemukan Surga di Sana

image
Sportyabc.com/kiriman

SPORTYABC.COM -  Seorang pelajar Indonesia dikirim ke Yugoslavia di tahun 1960-an oleh Bung Karno. Karena prahara politik di dekade itu, ia tak pernah pulang.
-000-
Langit Yugoslavia, abu-abu dan bisu.  
Sejarah hilang dalam bayangan.  

Marwan, kini 85,  
punggungnya melengkung oleh beban masa lalu,  
nyeri di tubuh,  
patah di jiwa.  

Api yang dulu menyala,  
kini berpendar samar,  
ditiup angin waktu yang tak kenal belas.

Dulu, Indonesia adalah bara,  
dalam gelora Bung Karno,  
pemuda-pemuda digiring ke mimpi besar.

Marwan, salah satunya,  
dikirim ke Yugoslavia,  
negeri yang kala itu tegak,  
dengan Presiden Tito di puncak kekuasaan,  
sebuah eksperimen di simpang dunia.

Di sana, sosialisme berdiri teguh,  
di bawah bendera merah,  
revolusi bersinar di jalan-jalan,  
membangun masa depan yang berkilau.

Namun sejarah adalah pedang bermata dua,  
menggores dan menebas harapan dalam sekejap.

Bung Karno jatuh,  
Marwan kehilangan pijakan,  
tanah air tak lagi memanggil,  
paspor dicabut,  
pulang berarti menjemput kegelapan—  
penjara atau kematian.
-000-
Ia terdampar di negeri yang dulu memberinya naungan,  
tapi Yugoslavia pun pecah,  
seperti kaca yang retak di tanah keras.

Di Sarajevo, tembok-tembok bicara dengan luka,  
pintu-pintu tertutup oleh peluru dan api.  

Negeri yang teguh kini terbelah,  
dibakar kebencian,  
dihancurkan perang saudara,  
perbedaan adalah dosa  
yang ditukar dengan nyawa.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait