Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
- Penulis : Rhesa Ivan
- Sabtu, 21 September 2024 08:24 WIB

SPORTYABC.COM - 1965, Bung Karno jatuh. Bujana, seorang pengagum Bung Karno, pelajar Indonesia di Yugoslavia, terperangkap dalam pengasingan. Ia rindu Indonesia, tapi takut pulang.
-000-
“Kutemukan jati diri,
setelah hilang segala."
“Hilang tanah air,
masih bisa kutahan.
Hilang kepastian hidup,
kubuat nyaman.
Hilang identitas,
menusuk hati,
mengikis perlahan jiwa yang dulu kukenal.
Tapi hilang kabar soal Ibu,
merobek seluruh hidupku."
Puluhan surat sudah kutulis untukmu, Ibu.
Sampaikah?
Mengapa tak berbalas?
Atau mungkin,
kau berubah menjadi kenangan yang memudar,
hanyut di lautan waktu?
Tapi aku masih mencarimu,
di balik langit yang kelam,
di antara hujan yang tak pernah henti.
Angin mengguncang keras pohon di seberang jalan,
ranting-ranting melambai tak menentu,
menjadi tangan yang berusaha meraih bayangan.
Wajah Ibu terayun di ujung ranting,
melambai di balik kabut yang menutup masa lalu.
Hujan turun deras,
mengguyur tubuh.
Itu tangisan yang tak kenal henti.
Bujana kuyub,
keringat dan rindu menyatu dengan air.
20 tahun sudah berlalu,
tanpa suara dari wanita yang mengajarkannya dunia.
Bujana,
asal Bali,
tumbuh di bawah bendera revolusi.
Ia pohon muda yang menari dalam angin cita-cita.
Tahun 1960-an,
Indonesia mengirimnya untuk belajar,
ke Yugoslavia,
menjadi mata dan tangan revolusi.
Ia pecinta Bung Karno,
tergetar oleh gema perjuangan.
Bintang berdansa di jiwanya,
ketika menerima kabar,
beasiswa dari sang Pemimpin,
untuk belajar dan menguatkan revolusi.