Catatan Denny JA: Renungan Sumpah Pemuda, Warna Nasionalisme di Era Algoritma
- Penulis : Rhesa Ivan
- Senin, 28 Oktober 2024 10:10 WIB

Namun, globalisasi membawa perubahan. Nasionalisme mulai terbuka pada pengaruh asing. Menjadi bagian bangsa bukan berarti menolak dunia luar.
Nasionalisme berkembang menjadi semangat yang menyerap nilai-nilai baru. Identitas kebangsaan Indonesia menjadi campuran, tradisi dan modernitas.
Kini, di era algoritma, nasionalisme mengalami babak baru. Identitas kebangsaan tidak lagi tercipta melalui sejarah atau pendidikan. Ia terbentuk oleh layar digital dan konten.
Baca Juga: Media Asing Soroti Perilaku Kaesang, Mulai dari Gagal Nyalon hingga Jet Pribadi
Generasi baru membangun kebangsaan mereka dari realitas yang dibentuk algoritma. Nasionalisme menjadi lebih fleksibel, tetapi juga lebih rentan.
Menjaga Nasionalisme di Era Algoritma
Menghadapi era algoritma, setiap individu harus siap dan disiapkan. Jangan sampai terjadi Algoritma menjadi tuan dan individu budaknya.
Baca Juga: Liga Inggris: Kalahkan Crystal Palace, Liverpool Makin Nyaman di Puncak
Kita butuh literasi digital yang mendalam. Masyarakat perlu menyadari dan memilih pengaruh algoritma pada identitas mereka.
Di negara-negara maju, literasi digital menjadi prioritas. Masyarakat diajarkan untuk berpikir kritis, menyaring informasi yang mereka konsumsi, sejak di sekolah.
Selain itu, transparansi algoritma sangat penting. Platform digital perlu terbuka soal bagaimana informasi dipilih. Hal ini mengurangi manipulasi informasi yang tak disadari.
Warna nasionalisme setiap individu jangan ditentukan algoritma semata.
Baca Juga: Liga Inggris: Brace Mateo Kovacic Menangkan Manchester City atas Fulham
Empat tahun lagi, Sumpah Pemuda genap berusia seabad. Seperti nyala obor yang terus menyala, nasionalisme yang dulu membara kini berhadapan dengan angin zaman yang berbeda.