Catatan Denny JA: Ketika 180 Kreator Milenial dan Gen Z, dari Aceh hingga Papua, Bersaksi Melalui Puisi Esai
- Penulis : Rhesa Ivan
- Kamis, 14 November 2024 13:13 WIB

SPORTYABC.COM - “Menulis adalah sebuah cara untuk mendengar suara yang tak terdengar, merangkul yang tak terjamah, dan melihat yang tersembunyi di balik keramaian.”
Dalam sunyi, ketika kata demi kata terangkai, tercipta sebuah jembatan yang menghubungkan kita dengan diri terdalam, dengan sesama, dan dengan dunia yang terus berubah.
Kutipan ini mengajak kita memasuki dunia sastra yang lebih dari sekadar tulisan; ia adalah jiwa yang menyuarakan keheningan, ketakutan, harapan, dan mimpi
Khususnya bagi generasi milenial dan Gen Z, menulis adalah cara untuk merekam jejak pemikiran mereka di tengah arus digital yang terus berlalu.
Di era yang sering kali didominasi oleh kilasan informasi cepat dan gambar-gambar instan, puisi esai hadir sebagai media yang mendalam, mengajak mereka berhenti sejenak, merenung, dan menyuarakan kisah dari sudut pandang mereka sendiri.
Renungan ini yang teringat ketika saya ikut mengelola sekitar 180 kreator, berusia 25 tahun ke bawah, dari Aceh hingga Papua, bahkan juga dari Malaysia, Singapura, Thailand hingga Kairo, mengekspresikan kesaksian atas isu kemanusiaan, true story, melalui puisi esai.
Menyambut Festival Puisi Esai Jakarta yang kedua, Desember 2024, mereka menuliskan puisi esai dalam 18 buku. 1
Ini kegiatan yang membuat lega karena menulis sastra kini menjadi paradoks. Riset menunjukkan bahwa pembaca sastra cenderung memiliki solidaritas sosial lebih tinggi, namun minat membaca sastra menurun.
Menurut National Endowment for the Arts (2015), hanya 43 persen orang dewasa di AS membaca sastra, turun dari 56 persen pada 1982.
Sedangkan menurut data LSI Denny JA di tahun 2024, penduduk Indonesia yang membaca sastra minimal 1 buku tahun lalu, hanya 16 persen.
Mengapa Sastra, Mengapa Puisi Esai?