Catatan Denny JA: Ketika 180 Kreator Milenial dan Gen Z, dari Aceh hingga Papua, Bersaksi Melalui Puisi Esai
- Penulis : Rhesa Ivan
- Kamis, 14 November 2024 13:13 WIB

Sastra telah menjadi nafas sejarah, memperkaya budaya dan menjadi saksi zaman. Bagi generasi milenial dan Gen Z, sastra bukan hanya sekadar ekspresi pribadi, tetapi cara untuk mengukir identitas dan memahami dunia.
Dalam konteks ini, ada tiga alasan kuat mengapa penting mengajak mereka untuk menulis sastra, khususnya puisi esai, yang menjadi ruang kreatif antara puisi dan prosa, menyuarakan isu-isu sosial dengan estetika dan kontemplasi.
Pertama: Menumbuhkan Kepekaan Sosial
Milenial dan Gen Z adalah generasi yang hidup di era kompleks dengan isu-isu global yang semakin nyata.
Masalah hak asasi manusia, ketidakadilan, perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan krisis kesehatan mental adalah isu-isu yang dekat dengan mereka.
Namun, informasi yang terlalu banyak sering kali membuat mereka tumpul, kehilangan kepekaan terhadap permasalahan di sekitarnya.
Puisi esai hadir sebagai ruang bagi mereka untuk menyuarakan kepedulian sosial ini dengan cara yang mendalam dan personal.
Dalam menulis puisi esai, mereka tidak hanya mengungkapkan pandangan atau opini, tetapi juga menghidupkan kisah-kisah nyata yang sering kali terabaikan.
Misalnya, seorang pemuda di Aceh menulis tentang memori Gerakan Aceh Merdeka. Sementara seorang gadis di Papua menyuarakan tentang harapan untuk pendidikan yang lebih baik.
Dengan menulis puisi esai, mereka belajar untuk tidak hanya melihat isu-isu tersebut dari permukaan, tetapi menyelam lebih dalam, memahami akar masalah, serta merasakan empati terhadap mereka yang terlibat.
Seperti halnya pohon yang tumbuh dari akar yang kuat, kepekaan sosial tumbuh dari pemahaman yang mendalam.