Catatan Denny JA: Memulai Tradiisi Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain secara Sosial
- Penulis : Rhesa Ivan
- Minggu, 24 November 2024 13:10 WIB

Sebaliknya, ia tentang mengembangkan empati terhadap sisi esoteris agama dan melakukan universalisasi atas prinsip-prinsip kebaikan dan keadilan yang dikandungnya.
Tradisi ikut merayakan hari raya agama lain adalah langkah maju dalam perjalanan ini. Ia mengajak kita untuk melampaui sekat-sekat eksklusivitas, menemukan titik temu dalam nilai-nilai universal yang menghubungkan kita sebagai manusia.
“Empati adalah bahasa universal. Saat kita merayakan kebahagiaan orang lain, kita sedang menciptakan dunia yang lebih damai.”
Esoterika, Forum Spiritualitas, yang saya dirikan bersama teman- teman mulai mentradisikan perayaan hari raya aneka agama secara lintas iman.
Sejak dua tahun lalu (2022), forum ini secara sosial merayakan hari raya dan hari besar tak hanya Islam, Kristen, Budha, tapi juga Brahma Kumaris, Syiah, Ahmadiyah, KhongHuCu, dan Hari Rumi.
Aneka agama adalah simfoni peradaban; setiap keyakinan adalah melodi, dan hanya dengan mendengar semuanya, kita dapat memahami harmoni yang lebih besar.
"Aneka agama adalah mosaik cahaya di malam gelap; setiap keyakinan adalah satu lilin yang menerangi jalan. Ketika kita merayakan lintas iman, kita saling menyulut cahaya, menciptakan dunia yang lebih terang."***
Jakarta 24 November 2024
CATATAN
(1) Penganut Non-Kristen merayakan Natal