Diskusi SATUPENA, Siti Maemunah: Bicara tentang Krisis Lingkungan Tak Bisa Lepas dari Konsep Ekstraktivisme
- Penulis : Rhesa Ivan
- Jumat, 19 Juli 2024 08:44 WIB

SPORTYABC.COM – Bicara tentang krisis lingkungan saat ini tak bisa dilepaskan dari konsep ekstraktivisme. Hal itu diungkapkan Siti Maemunah dari Tim Kerja Perempuan dan Tambang, Badan Pengurus JATAM.
Siti Maemunah menjadi narasumber dalam diskusi daring Hati Pena di Jakarta, Kamis malam, 18 Juli 2024, yang mendiskusikan seberapa parah krisis lingkungan Indonesia.
Diskusi yang menghadirkan Siti Maemunah itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA yang diketuai Denny JA. Diskusi dipandu oleh Anick HT dan Swary Utami Dewi.
Baca Juga: Rumput Stadion Tidak Bagus, Shin Tae yong Sindir Pengelola GBK agar Jangan Sering Dipakai Konser
Dalam diskusi bertema lingkungan itu, Siti Maemunah memaparkan, ekstraktivisme adalah kegiatan yang membongkar dan memindahkan sumber daya alam dalam skala besar, baik berupa bahan mentah yang tidak diproses (atau diproses sebagian), terutama untuk diekspor.
“Ekstraktivisme tidak terbatas pada tambang mineral atau migas, tetapi juga pertanian, kehutanan, bahkan perikanan dan juga pariwisata,” jelas Maemunah.
“Pandangan ini berasal dari pengalaman negara-negara Amerika Latin, tetapi kemudian nyambung dengan pengalaman Indonesia,” lanjutnya.
Diungkapkan oleh Maemunah, ini adalah kombinasi praktik pembangunan dan pemangsa, negara mengekstraksi dengan mengorbankan masyarakat. Ini didukung ekspor berbagai komoditi ekstraktif, termasuk minyak, gas, kayu dan mineral.
Menurut Maemunah, praktik ini sudah berlangsung lama. Yakni, sejak zaman kolonial (1800-an), pascakolonial (1945-1966), rezim ekstraktif (1966-1999), rezim ekstraktif dengan desentralisasi (1999-2009), dan rezim ekstraktif dengan “resource nationalism” (2009-sekarang).
Ditambahkannya, ada pemerintahan yang progresif dan seolah “pro-rakyat” tapi justru secara aktif mempromosikan ekstraktivisme.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga 2: Jafri Sastra Resmi Latih Sriwijaya FC
Tetapi ia melakukannya dengan strategi berbeda, yang mengkombinasikan reformasi kebijakan dan aturan (UU Cipta Kerja, amandemen UU Minerba) hingga subsidi keuangan.