Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
- Penulis : Rhesa Ivan
- Sabtu, 21 September 2024 08:24 WIB

Namun revolusi tumbang,
bersama Bung Karno,
bersama impian.
Tumbang pula harapan.
Jika pulang, penjara menanti.
Jika tak pulang, paspor pun terhapus.
Ia terombang-ambing,
menjadi daun gugur,
tak lagi memiliki tempat untuk jatuh.
Ia bukan lagi milik bumi mana pun.
Ia adalah pohon diterbangkan badai,
tercabut dari akar,
mengembara di langit kosong,
menunggu jatuh di tanah yang tak pernah datang.
-000-
“Ah, rindu kampung halaman,
mengoyak tiap sudut jiwaku."
Bujana ingin mencicipi rasa masa lalu,
Jaje kelepon kini hanya ilusi,
jagung urap hadir dalam mimpi.
Bau masakan ibu,
Ayam Betutu yang semerbak,
Nasi Jinggo menyelimuti malam.
Suara gamelan membisikkan rindu,
mengundangnya pulang,
menjadi melodi masa lalu yang tak lagi bisa disentuh.
Di sudut Eropa Timur,
Bujana semakin tua,
ditemani istri dari Slovenia.
Anak-anak sudah besar,
cucu banyak tawa,
tapi jiwanya tetap mengembara,
selalu terbang ke rumah,
yang tak pernah lagi bisa ia lihat.
Malam yang sunyi,
salju turun perlahan,
membawa dingin menusuk hati.
Di bawah sinar bulan,
ia melihat wajah itu.