Catatan Denny JA: Ilmu Menjadi Tanah Air Pengganti
- Penulis : Rhesa Ivan
- Jumat, 04 Oktober 2024 10:20 WIB

Sepi datang, menjadi virus
lebih dingin dari salju,
lebih kejam dari revolusi yang gagal,
mengiris jiwaku,
mengoyak mimpi yang pernah mekar,
di atas ilusi kekuasaan.
“Aku berlari,
tapi dari apa?
Dari diriku sendiri?”
---
Namun di tengah kehancuran,
seberkas cahaya muncul,
bukan dari api revolusi yang meredup,
melainkan dari dunia ilmu pengetahuan,
yang diam-diam menyusup,
membuka jendela ke dunia yang lebih luas.
Jika tak ada tanah untukku,
aku akan menciptakan rumah
dari ilmu yang kupelajari.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ayah, Semoga Abu Jasadmu Sampai ke Pantai Indonesia
Ini rumah tanpa batas,
tanpa paspor,
tanpa negara,
setiap molekul menjadi pijakan.
Dari Moskow, Sartono mencari jalan, ke Berlin, lewat jalan rahasia, tersembunyi.
Rasa takut dikalahkan jeritan kebebasan.
Berlin Barat, 1977.
Aku tiba dengan tangan kosong,
berlindung dari bayangan masa lalu.
Tak ada nama yang memanggilku,
tak ada jejak yang mengenaliku.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Namun di Max Planck,
aku temukan tanah air baru,
bukan dari tanah,
tapi dari rumus dan formula ilmu,
yang menjawab sepi dalam dadaku.
“Ilmu adalah jalanku pulang,”
bisikku pada malam tanpa bintang.
Setiap rumus yang kugoreskan
adalah puisi,
setiap temuan riset adalah nyanyian,
membangkitkan jiwa yang pernah hilang.
---
Sartono, di tepi sungai Spree,
berdialog dengan bayangannya.
“Apakah ini akhir pencarianku?
Apakah ini jawabannya?”
Baca Juga: MPR RI Cabut TAP MPR Mengenai Pemberhentian Gus Dur, Nama Baiknya Pun Dipulihkan
Ilmu telah menjadi bahasaku,
dan dalam setiap kajian buku,
aku menemukan kembali diriku.