DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Puisi Denny JA: Kubawa Cincin Janjiku

image
Sportyabc.com/kiriman

SPORTYABC.COM - Setelah 58 tahun terpisah oleh sejarah akibat prahara politik, Anwar kembali untuk menepati janji yang pernah terkubur bersama waktu.
-000-
Langit Jakarta berwarna tembaga,
menggantung kelabu,
menjadi lukisan tua yang pecah.

Di hadapan tanah yang pernah ia sebut rumah,
Anwar berdiri menatap nisan beku,
nama Farah terukir samar,
kenangan yang tertutup debu sejarah.

Lima puluh delapan tahun lalu,
dikirim jauh ke negeri asing,
Anwar meninggalkan cintanya,
dengan janji berbisik di bibir:
“Untukmu, aku kembali.”

Bung Karno memanggil anak-anak muda,
mengirim mereka sekolah ke luar negeri,
memetik pelajaran di tanah jauh,
dengan harapan mereka pulang,
membangun negeri yang bermimpi.

Farah mengantar Anwar di batas kota,
matanya menyimpan luka perpisahan,
cinta mereka terjepit di ujung harapan,
seperti api kecil yang dilindungi dari angin.

Dan di Moskow, Anwar membeli cincin kecil—
sebuah janji yang ia simpan erat,
cahaya bagi cinta yang ia bawa pulang.

Namun badai datang,
memecah langit dengan raungan.

1965, Bung Karno tumbang,
impian berserak di jalanan yang berlumur darah.

Paspor Anwar direnggut,
ia melayang bagai daun lepas dari pohon,
tak lagi punya akar.

Cincin  itu,
sebuah janji yang tertahan di sakunya,
tetap di sana, menunggu waktu pulang,
harapan yang tak kunjung padam.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait