DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Puisi Denny JA: Kubawa Cincin Janjiku

image
Sportyabc.com/kiriman

-000-

Namun Farah tak menunggu,
hidupnya melangkah di jalan sunyi yang berbeda,

Farah menjadi ranting patah yang tumbuh menjauh,
dipaksa ayahnya mengikat diri pada pria lain,
takdir yang tak pernah ia pinta.


Di mata ayah Farah, Anwar hanya bayangan kelam,
terkubur prasangka dan tuduhan pengkhianat negara.

Anwar sendiri, terombang-ambing di negeri orang,
terdampar di Beijing, terkunci di Moskow,
tersesat di antara wajah-wajah asing,

Ia berjalan di keramaian yang sunyi,
bahkan bahasa pun seolah tak lagi menyentuh jiwanya.

Era reformasi datang.
Setelah sekian lama,
pintu pulang terbuka,
negeri ini memanggil mereka yang hilang,
menyambut anak-anak yang terbuang oleh sejarah.

Namun Farah—
kekasih yang ia janji pulang itu,
telah wafat,
menyatu dengan tanah.

Dan cincin itu,
tetap menggantung di saku Anwar,
sebuah janji yang terlambat,
menunggu untuk dipulangkan.

Dengan tangan yang kini bergetar,
Anwar menggali di bawah pohon akasia,
mengubur cincin itu di samping nisan.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait