DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Potret Batin Indonesia, Aceh hingga Papua, dari Kacamata Generasi Z

image
Sportyabc.com/kiriman

Berdasarkan data LSI Denny JA, kini hanya 16 persen dari populasi Indonesia yang setahun lalu sempat membaca setidaknya satu buku sastra (puisi, novel, drama). Sekecil apapun gerakan Gen Z menulis puisi esai dari Aceh hingga Papua dapat kembali membawa sastra ke tengah gelanggang.

Setiap kata yang mereka tulis menjadi bagian dari jejak sejarah, pengingat bahwa ketidakadilan dalam bentuk tertentu terjadi di era mereka dan harus dilawan. Mereka meninggalkan warisan kemanusiaan yang melampaui batas usia dan waktu.

Di dunia yang kerap terjebak dalam kedangkalan, puisi esai menjadi saksi bisu yang akan terus berbicara. Ia menggugah kita agar tidak pernah melupakan peran dalam merespons ketidakadilan.

Baca Juga: Diskusi Satupena, Eka Budianta: Peluang Menjadi Sastrawan Kini Semakin Terbuka

Ketika mereka mengungkapkan pengalaman ini, mereka tidak hanya menyuarakan peristiwa, tetapi juga melatih empati dan kepekaan sosial yang kian tergerus oleh derasnya informasi cepat.

Di tengah dunia yang kerap terjebak dalam citra dangkal, puisi esai menawarkan ruang bagi kedalaman dan refleksi, tempat di mana setiap kisah bisa hidup dan berakar.

“Ketika kata menjadi saksi, maka sejarah sebuah peristiwa takkan hilang ditelan waktu.”
Melalui puisi esai mereka, Generasi Z menuliskan jejak mereka, mencatat harapan, dan menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan yang esensial.

Baca Juga: Viral, Denny Caknan Muncul di Laga Derby Kota Barcelona

Jakarta, 15 November 2024 ***

CATATAN

(1) Buku ini terbit bersama 18 buku puisi esai lain yang ditulis oleh Generasi Z (Tahun Terbit Desember 2024). Dalam buku itu juga hadir puisi esai para kakak asuhnya.
 

Baca Juga: Puteri Indonesia, Sophie Kirana Masuk Lima Besar Miss International 2024

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait