Catatan Denny JA: Retreat para Penulis untuk Kemerdekaan
- Penulis : Rhesa Ivan
- Senin, 18 November 2024 10:05 WIB

Esai ini mempertanyakan apakah mereka benar-benar merdeka ketika hak dasar untuk mendapatkan perawatan dan dihormati sebagai manusia sering diabaikan.
Tulisan ini menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya tentang kebebasan fisik atau politik, tetapi juga kebebasan dari stigma dan diskriminasi.
Dengan mengangkat contoh nyata, penulis menyoroti kebutuhan mendesak untuk reformasi sistem kesehatan mental dan perubahan persepsi sosial, sehingga kemerdekaan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Hak yang sama harus pula dirasakan oleh mereka yang hidup dengan gangguan mental.
Dalam “Kepintaran Buatan: Sahabat atau Penguasa?”, Saskia Ubaidi membahas ambivalensi kecerdasan buatan (AI). Apakah AI menjadi alat yang memperkaya kehidupan atau ancaman yang mengambil alih kendali manusia?
Penulis menggali dampak AI terhadap pekerjaan, privasi, dan otonomi pribadi, serta mengajukan pertanyaan mendalam tentang hubungan manusia dengan teknologi.
Esai ini menghubungkan tema kemerdekaan dengan tantangan era digital. Penulis berargumen bahwa kendali atas teknologi adalah bentuk baru perjuangan kemerdekaan.
Jika AI dibiarkan tanpa pengawasan etis, ia bisa menjadi penguasa yang mengancam kebebasan manusia.
Tulisan ini mengajak pembaca untuk merenungkan peran mereka dalam mengarahkan perkembangan teknologi ke arah yang mendukung kemanusiaan.
Di samping tulisan non-fiksi, retreat penulis di puncak itu melahirkan pula cerita fiksi. Cerita “Mic Buat Guru Goy” karya Muhammad Thobroni mengisahkan seorang guru bernama Goy yang berjuang untuk tetap mengajar meski fasilitas sekolahnya sangat minim.