DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Dana Abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai

image
Sportyabc.com/kiriman

“Seni bukan hanya cermin realitas, tetapi juga cahaya yang mengubahnya.”
— Bertolt Brecht

SPORTYABC.COM - Kutipan ini yang saya ingat ketika memutuskan menyiapkan dana abadi untuk sebuah kegiatan seni: Festival Tahunan Puisi Esai.

Kutipan ini adalah pengingat bahwa seni, sebagaimana puisi esai, memiliki dua wajah: merekam kehidupan sebagaimana adanya dan menggerakkan dunia menuju apa yang seharusnya.

Baca Juga: KSAL Beri Nama 2 Kapal Patroli Buatan Italia, KRI Prabu Siliwangi dan KRI Brawijaya

Dalam konteks puisi esai, seni ini menjadi cermin dan obor, merekam ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat sembari mengilhami kita untuk mencari keadilan.

Tapi seni, terutama sastra, membutuhkan ruang untuk tumbuh, panggung untuk menampilkan, dan dukungan untuk bertahan melawan hegemoni pasar bebas.

Dunia sastra adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, penelitian menunjukkan bahwa membaca sastra meningkatkan empati. Para pembaca sastra cenderung lebih memahami penderitaan orang lain, lebih peka terhadap keragaman identitas, dan lebih peduli terhadap ketidakadilan.

Baca Juga: AFF Futsal 2024: Kalahkan Australia, Thailand Juara Tiga

Namun, di sisi lain, komunitas sastra jangka panjang tidak dapat hidup dari hukum pasar saja. Seni membutuhkan subsidi; sastra membutuhkan uluran tangan yang memastikan panggungnya tetap ada.

-000-

Sejarah membuktikan, dana abadi adalah katalis bagi keberlanjutan seni.

Baca Juga: #STYOut Bergema Usai Timnas Indonesia Ditebas Jepang dengan Telak

Andrew Carnegie, dengan visi mencerdaskan masyarakat, mendirikan ribuan perpustakaan. Hingga kini perpustakaan itu menjadi tempat belajar lintas generasi.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait