DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Dana Abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai

image
Sportyabc.com/kiriman

Alfred Nobel, dengan warisan dana abadinya, mendanai penghargaan sastra, di samping penghargaan lain. Ini memberi pengakuan tertinggi bagi para penulis dunia dan para kreator lainnya.

Ruth Lilly, melalui The Poetry Foundation, menyelamatkan puisi dari pinggiran dunia modern, dengan dukungan dana besar dalam sejarah puisi.

Mereka adalah bukti bahwa seni membutuhkan tangan-tangan dermawan yang mengerti bahwa kebudayaan adalah harta abadi umat manusia.

Baca Juga: KSAL Beri Nama 2 Kapal Patroli Buatan Italia, KRI Prabu Siliwangi dan KRI Brawijaya

Menghidupkan Kisah Nyata Melalui Puisi Esai

Di Asia Tenggara, Festival Puisi Esai pertama kali digelar di Malaysia, dengan dukungan dari Pemerintah Sabah. Tak pernah saya duga, pemerintahan di Sabah mengambil inisiatif membiayai festival puisi esai ASEAN.

Di Indonesia, komunitas puisi esai memulai tradisi festival tahunan sejak 2023. Komunitas ini menjadikan Jakarta sebagai pusat perayaan sastra ini.

Baca Juga: AFF Futsal 2024: Kalahkan Australia, Thailand Juara Tiga

Apa yang membuat puisi esai perlu terus dihidupkan, disebarkan, dan dirawat? Ini adalah genre yang menyampaikan kisah nyata dalam bentuk puisi.

Isu hak asasi manusia, ketidakadilan, marginalisasi, dan identitas sosial menjadi inti setiap puisi. Namun, puisi ini tidak berhenti pada metafora; ia mencatat fakta melalui catatan kaki, menghubungkan estetika dengan realitas.

Catatan kaki di puisi esai menjadi elemen vital yang menjadikan puisi ini bukan hanya seni, tetapi juga dokumen sosial.

Baca Juga: #STYOut Bergema Usai Timnas Indonesia Ditebas Jepang dengan Telak

Festival Puisi Esai Jakarta menjadi lebih dari sekadar panggung seni. Ia adalah ruang yang menjalankan banyak fungsi.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait