DECEMBER 9, 2022
Kolom

Denny JA Mengungkap Tiga Fakta Tercecer Sejarah Bangsa

image
Sportyabc.com/kiriman

Sementara, karya-karya pada Yang Tercecer ini jauh lebih singkat karena hanya membutuhkan waktu 5-10 menit pembacaan.

“Memang niat saya untuk semakin melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat agar lebih mengakrabi puisi esai. Salah satunya melalui durasi yang diperpendek tanpa mengurangi relevansi pesan yang disampaikan,” ungkap Denny JA kepada saya dalam sebuah pembicaraan.

Perbedaan kedua antara puisi esai format terdahulu dan format terkini terletak pada cara penulisan catatan kaki.

Baca Juga: Joko Widodo Anugerahkan Tanda Jasa dan Kehormatan bagi 64 Tokoh 

Jika sebelumnya catatan kaki ditulis secara konvensional layaknya dalam konvensi penulisan artikel ilmiah,  sekarang diganti gambar QR (quick response) Code yang canggih.

Ini sangat memudahkan bagi pembaca yang tertarik ingin menelusuri lebih jauh referensi faktual atas puisi esai yang tersaji. Misalkan pada puisi esai “Lima Puluh Tahun Kututup Rahasia Itu Rapat-Rapat” yang menggambarkan penderitaan Sonya sebagai jugun ianfu, sebelum dinikahi seorang tentara Inggris usai Perang Dunia II.

Jika QR Code yang disertakan di akhir puisi esai ini digunakan pembaca, maka akan muncul tautan sumber berita obituari pada harian The Washington Post berjudul “Jan Ruff O-Herne, Seeker Dignity for Fellow ‘Comfort Women’ of World War II, Dies at 96” (27 Agustus 2019).

Baca Juga: ORASI DENNY JA: Tanah Airku dalam Lagu, Puisi, dan Lukisan

Comfort women (wanita penghibur) adalah padanan dalam bahasa Inggris untuk bahasa Jepang jugun ianfu.
Jan Ruff (terlahir dengan nama Jeanne Alida O’Herne), lahir 18 Januari 1923, dari sebuah keluarga Belanda penganut Katolik yang taat di Bandung. Hidupnya bahagia dan bercita-cita menjadi biarawati, sampai masuknya Jepang ke Indonesia dan para gadis dibariskan para serdadu.

Jan Ruff termasuk 1 dari 10 orang dara cantik yang diambil paksa dan dipisahkan dari keluarganya, untuk menjalani kehidupan sebagai jugun ianfu. Sejak itulah garis hidupnya berubah total.

Dari kisah obituari mengiris hati yang diwartakan The Washington Post itulah Denny JA mengolahnya menjadi sebuah karya puisi esai yang bertenaga. Sekaligus membuat galau pembaca.

Baca Juga: 5 Lukisan Denny JA Spesial HUT ke – 79 RI: Tegakkan Merah Putih Itu

Bagi Anda peminat sejarah Indonesia, khususnya tema-tema jugun ianfu, romusha, dan kehidupan para nyai yang dijadikan gundik para Tuan Belanda, antologi Yang Tercecer di Era Kemerdekaan: Ekspresi Puisi Esai adalah karya yang harus dibaca.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait