Israel Desak PBB Jauhkan Pasukan Perdamaian dari Bahaya di Lebanon
- Penulis : Rhesa Ivan
- Minggu, 13 Oktober 2024 21:59 WIB

SPORTYABC.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu 13 Oktober 2024 meminta PBB untuk menarik misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan di tengah serangan darat ke daerah tersebut.
Permintaan ini ditulis oleh Benjamin Netanyahu dalam pesan berbahasa Ibrani kepada Sekjen PBB Antonio Guterres.
"Sudah saatnya bagi Anda untuk menarik UNIFIL dari benteng pertahanan Hizbullah dan dari daerah pertempuran," kata Netanyahu dalam pesan berbahasa Ibrani kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Baca Juga: Israel Semakin Menggila, Situs UNESCO Terancam Hancur Lebur di Lebanon
"IDF (angkatan bersenjata Israel) telah berulang kali meminta ini, dan telah bertemu dengan penolakan berulang kali, semuanya ditujukan untuk menyediakan perisai manusia bagi teroris Hizbullah," klaim Netanyahu.
"Tuan Sekretaris Jenderal, singkirkan pasukan UNIFIL dari bahaya. Itu harus dilakukan sekarang, segera," kata pemimpin Israel itu.
Sebagaimana diberitakan dua personel penjaga perdamaian pada Kamis 10 Oktober 2024 terluka dalam serangan Israel terhadap pos pengamatan PBB di Lebanon Selatan.
Baca Juga: Indonesia Kutuk Keras Serangan Israel ke Markas UNIFIL Lebanon yang Lukai 2 Anggota TNI
Bahkan sebuah peluru artileri juga menghantam pusat komando utama UNIFIL di kota perbatasan Naqoura pada hari berikutnya.
Benjamin Netanyahu klaim bahwa Israel menyesalkan cedera yang dialami penjaga perdamainan PBB, namun menurut Benjamin cara sederhana dan jelas untuk pastikan tersebut adalah mengeluarkan pasukan perdamaian dari zona bahaya.
"Namun, cara yang sederhana dan jelas untuk memastikan hal ini adalah dengan mengeluarkan mereka dari zona bahaya," katanya.
Baca Juga: Prajurit TNI UNIFIL Diserang Israel, Inilah Respon Dunia Mulai dari Indonesia hingga Amerika Serikat
"Penolakan Anda untuk mengevakuasi tentara UNIFIL akan menjadikan mereka sandera Hizbullah. Ini membahayakan mereka dan nyawa tentara kami," kata Netanyahu.