Era Artificial Intellegence: Tiga Jenis Penulis dan Teror Mental Putu Widjaya, Sekapur Sirih Denny JA
- Penulis : Rhesa Ivan
- Jumat, 05 Juli 2024 15:28 WIB

SPORTYABC.COM - “Persoalan dengan Artificial Intelligence bukanlah kecerdasan ini akan menggantikan manusia. Ia hadir justru menjadi alat bantu agar kita menjadi versi yang lebih baik daripada homo sapiens saat ini.”
Pernyataan dari Fei-Fei Li ini yang teringat, ketika saya menyaksikan Putu Wijaya. Bulan Desember 2023, di atas panggung, dari kursi rodanya, dalam acara SATUPENA, dibantu dua orang asisten di kanan dan di kiri, di akhir pementasannya, Putu berdiri, dan memekik sepenuh tenaga:
*Hidup manusia! Hidup manusia!*
Baca Juga: Drawing Kualifikasi Piala Asia U17 2025: Indonesia Masuk Grup Maut Bersama Australia dan Kuwait
Hadirin riuh rendah bertepuk tangan. Penonton terkesima bukan saja pada semangat Putu Wijaya yang melampaui fisiknya.
Tetapi juga karena hadirin merasakan percikan api keyakinan Putu Wijaya pada kemampuan manusia.
Ketika turun dari panggung, Putu Wijaya bercerita membisik kepada saya. Ia terpana dan shock mendengar pidato saya (Denny JA). Selaku ketua umum SATUPENA, Perkumpulan Penulis Indonesia, saya memberi sambutan mengenai perkembangan mutakhir.
Dalam orasi itu saya katakan, betapa sekarang ini, Artificial Intelligence bukan saja sudah bisa menulis buku sendiri. Tapi beberapa buku yang ditulis Artificial Intelligence sudah pula mencapai Best Seller di toko buku online terbesar Amazon.com.
Baca Juga: Drawing Kualifikasi Piala Asia U20 2025: Indonesia Terhindar dari Lawan Berat
Orasi saya itu menggelisahkannya. Melalui WA di japri, lewat istrinya, Putu ulangi lagi kesannya. Saya cuplik teks itu dan saya edit redaksinya agar lebih mudah dibaca:
(Putu sudah 60 tahun menulis baik drama, cerpen, novel, skenario film dalam rangka teror mental.
“Putu tergugah/terinspirasi oleh testimoni Pak Denny JA yang menyatakan AI sudah mampu menulis fiksi, bahkan yang best seller."
Baca Juga: Raih Emas di Ajang ASEAN University Games 2024, Basket 3x3 Indonesia Tuai Pujian
Putu Wijaya sudah mulai menulis karya-karya Teror Mental sejak 60 tahun yang lalu. Ia tidak mengandalkan bantuan data-data, tetapi mengeksplorasi “rasa.”