Era Artificial Intellegence: Tiga Jenis Penulis dan Teror Mental Putu Widjaya, Sekapur Sirih Denny JA
- Penulis : Rhesa Ivan
- Jumat, 05 Juli 2024 15:28 WIB

-000-
Karena Artificial Intelligence, kini lahirlah tiga jenis penulis yang berbeda, masing-masing dengan pendekatan unik terhadap seni menulis.
PERTAMA, penulis Pola Lama. Mereka adalah penjaga tradisi. Mereka mengukir kata-kata dengan penuh hati. Meyakini bahwa kedalaman emosional dan orisinalitas hanya dapat dicapai melalui usaha pribadi. Tanpa intervensi teknologi.
Baca Juga: Drawing Kualifikasi Piala Asia U17 2025: Indonesia Masuk Grup Maut Bersama Australia dan Kuwait
Bagi mereka, menulis adalah perjalanan batin. Ini melibatkan refleksi mendalam, observasi tajam, dan interaksi langsung dengan dunia sekitar. Setiap kata adalah cerminan jiwa, setiap kalimat adalah tarian pikiran.
Keunikan mereka terletak pada orisinalitas dan keaslian karya. Nuansa emosional dan filosofi yang kaya mengisi tulisan mereka. Menulis bagi mereka adalah seni murni. Sebuah simfoni yang dimainkan dengan penuh perasaan dan ketelitian.
Penulis jenis ini tak menggunakan Artificial Intelligence sama sekali, bahkan memandang negatif AI dalam berkarya.
Baca Juga: Drawing Kualifikasi Piala Asia U20 2025: Indonesia Terhindar dari Lawan Berat
KEDUA, di sisi lain spektrum, ada penulis AI Sepenuhnya. Mereka adalah pionir di dunia literatur digital. Mereka memanfaatkan kekuatan AI untuk menciptakan karya mereka.
Dengan alat seperti GPT-3, mereka dapat menghasilkan teks dengan cepat dan efisien. Mereka menciptakan cerita yang kompleks dan menarik dalam waktu yang relatif singkat.
Penulis AI sepenuhnya percaya teknologi dapat membuka peluang baru. Inovasi dalam cara bercerita menjadi fokus mereka.
Baca Juga: Raih Emas di Ajang ASEAN University Games 2024, Basket 3x3 Indonesia Tuai Pujian
Mereka menggunakan AI untuk eksplorasi naratif. Plot twist yang tak terduga dan karakter yang kaya dan dinamis menjadi hasil karya mereka.