Menangnya Gerakan Katakan tidak kepada Keharusan Berjilbab: Inilah Pandangan Denny JA
- Penulis : Rhesa Ivan
- Kamis, 11 Juli 2024 12:44 WIB

Mengapa isu jilbab menjadi besar sekali di Iran bahkan masuk ke dalam top isu panggung utama pemilu presiden?
Gerakan panjang sudah lama terjadi di Iran menentang hukum wajib memakai jilbab bagi semua perempuan.
Hukum wajib ini diterapkan sejak Revolusi Iran tahun 1979 yang dipimpin oleh Imam Khomeini.
Ini revolusi yang mengubah Iran dari negara sekuler menjadi negara Islam. Maka diwajibkan pula semua wanita di ruang publik harus memakai jilbab. Yang tidak memakai jilbab akan terkena sanksi hukum.
Baca Juga: Piala Eropa 2024: Penyerang Juventus dan Timnas Italia ini Pengen Banget ke Indonesia
Sejak tahun 1979, sudah terjadi berbagai aksi protes dari berbagai aktivis perempuan. Aksi protes itu terjadi secara sporadis.
Namun, ada dua gerakan besar yang menentang kewajiban memakai jilbab di tempat umum.
Pertama adalah gerakan tahun 2017 yang terkenal dengan julukan "Girls of Enghelab Street".
Di tahun 2017 itu, sekelompok perempuan berprotes di jalan Enghelab.
Baca Juga: 164 Wartawan Jadi Pelaku Judi Online, Pendiri AJI Prihatin
Satu tokoh di sana bernama Vida Movahed. Ia secara demonstratif naik ke tempat tinggi. Ia berdiri, dan melepas jilbabnya di depan umum.
Jilbabnya ia letakkan di tongkat, ia angkat tongkat ke atas, dan ia putar-putar. Lalu mengatakan bahwa kaum perempuan harus menentukan sendiri cara berpakaian.
“Negara tidak boleh mengatur cara kita berpakaian. Yang penting pakaian kita sopan. Apakah kita memakai jilbab atau tidak, sepenuhnya hak kita.”
Gerakan dengan tokoh utama Vida ini meluas menjadi percakapan publik. Foto Vida melepas jilbab dan meletakkan di atas tongkat menjadi foto yang ikonik.