Menangnya Gerakan Katakan tidak kepada Keharusan Berjilbab: Inilah Pandangan Denny JA
- Penulis : Rhesa Ivan
- Kamis, 11 Juli 2024 12:44 WIB

Ia menjadi simbol keberanian perempuan Iran menolak Negara dan Otoritas Agama terlalu jauh mendominasi dunia perempuan.
Lalu muncul kembali gerakan dan protes paling panjang, paling besar, dan paling lama dari gerakan perempuan di Iran menentang kewajiban memakai jilbab. Ini berlangsung di tahun 2022 hingga 2023.
Ini gerakan yang hampir satu tahun usianya, disebut "Mahsa Amini Protests". Protes ini meluas akibat meninggalnya Mahsa Amini.
Baca Juga: Piala Eropa 2024: Penyerang Juventus dan Timnas Italia ini Pengen Banget ke Indonesia
Amini seorang perempaun yang tidak memakai jilbab. Akibatnya, ia ditangkap oleh polisi agama dan dipenjara. Dalam penjara, ia tetap menunjukkan perlawanannya.
Amini mengatakan bahwa ia punya hak untuk memakai jilbab atau tidak. Lalu terdengar sayup-sayup dari luar. Mahsa Amini disiksa dan berujung pada kematiannya.
Segera ini menjadi berita besar di Iran. Ini sudah dianggap melampaui batas: ada seorang perempuan mati di penjara karena menolak memakai jilbab.
Baca Juga: 164 Wartawan Jadi Pelaku Judi Online, Pendiri AJI Prihatin
Gerakan meluas karena kondisi di bawah permukaan sudah membara. Berita ini dicatat oleh The New York Times dan juga oleh Iran Human Rights.
Mereka mencatat sebanyak 476 orang tewas karena gerakan ini. Begitu banyak yang memberontak atas aturan ini, namun polisi begitu keras menekannya.
Gerakan ini mereda tapi tak pernah selesai. Perlawanan juga terjadi di media sosial. Banyak wanita menyatakan di Facebook tentang "Say No" pada kewajiban memakai jilbab.
Inilah kondisi sosial yang tumbuh di Iran. Ketika calon presiden Masoud Pezeshkian secara terbuka menyatakan ia mendukung hak wanita untuk menentukan sendiri memakai jilbab atau tidak, seketika pernyataan ini bergaung.