Ketika Orang Pintar Pun Jadi Jongos: Menyambut Pertunjukan Teater di Yogyakarta
- Penulis : Rhesa Ivan
- Minggu, 21 Juli 2024 10:10 WIB

Oleh Denny JA
SPORTYABC.COM - “Di Luar Oligarki, Semua Hanyalah Korban.” Ini kalimat pembuka dari skenario teater yang mengambil judul the Jongos.
Membaca kalimat pembuka itu, seketika saya mengembangkan imajinasi. Oligarki di tanah air begitu sering dibicarakan.
Naskah ini mungkin kritik sosial atas praktik oligarki yang ada, terhadap keadaan ekonomi dan politik yang semakin didominasi oleh segelintir orang saja.
Judul The Jongos itu juga membangkitkan dugaan. Apakah pertunjukkan teater kali ini ingin membuka mata, betapa kini orang- orang pintar, intelektual, aktivis, politisi hanya menjadi The Jongos saja, menjadi babu saja dari majikan penguasa?
Saya pun membaca cuplikan awal dialog karakter di naskah itu.
Kotto: “Ya wajar dong! Karena hanya orang berkuasa dan kaya yang berhak marah!”
Busril: “Tapi kita juga berhak tersinggung dan marah?”
Kotto: “Oh ya enggak, (pause) Hak kita hanya untuk dimarahi. Itulah kodrat jongos yang sejati. Paham?”
Busril: “Wah ya ndak bisa. Ndak bisa. Kita setara. Ini harus didobrak! Biar egaliter!”
Kotto: “Egaliter..egaliter ndas situ! (pause) He, kamu mesti ingat ajaran leluhur perjongosan