Ketika Orang Pintar Pun Jadi Jongos: Menyambut Pertunjukan Teater di Yogyakarta
- Penulis : Rhesa Ivan
- Minggu, 21 Juli 2024 10:10 WIB

Sejongos-jongosnya Jongos yang radikal, masih lebih baik jongos yang selalu siap ditindas (tertawa).”
-000-
Naskah The Jongos ditulis oleh Indra Tranggono. Yang menjadi sutradara Isti Nugroho
Naskah dimainkan oleh Teater Dapoer Seni Djogja. Pentas teater ini untuk tanggal 10 Agustus 2024, di auditorium, Jurusan Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Pesannya memberi kritik tajam kepada sistem oligarki dan ketidakadilan yang merajalela. Cerita ini berpusat pada Tuan Hakim, simbol dari sistem hukum yang korup dan tunduk pada kekuasaan oligarki.
Pesan utamanya: di luar kelompok oligarki yang berkuasa dan kaya, semua orang hanyalah korban dari sistem yang korup dan tidak adil.
Skenario ini dimulai dengan Prof Dr Pras Jikmo yang memberikan jubah kepada Tuan Hakim. Itu simbol penyerahan kekuasaan.
Panggung terdiri dari tiga level yang menunjukkan hirarki sosial. Tuan Hakim di level atas. Busril serta Kotto, sebagai jongos atau pelayan di bawah.
Lagu "Pergi Tanpa Pesan" yang dinyanyikan oleh Busril membuka cerita. Lagu itu bersuasana muram, menggambarkan ketidakadilan yang mereka alami.
Dialog antara Busril dan Kotto mencerminkan ketidakpuasan mereka terhadap sistem yang ada. Mereka berbicara tentang keadilan yang tidak pernah datang dan bagaimana mereka hanya menjadi alat bagi para penguasa.
Ketegangan meningkat ketika Tuan Hakim menunjukkan ketidakpuasannya. Hidupnya penuh tekanan dan godaan korupsi.