DECEMBER 9, 2022
Kolom

Ketika Orang Pintar Pun Jadi Jongos: Menyambut Pertunjukan Teater di Yogyakarta

image
Sportyabc.com/kiriman

Prof Dr Pras Jikmo datang menekan. Kekuasaan harus dipertahankan dengan segala cara. Tak apa, meskipun itu mengorbankan integritas.

Klimaks cerita terjadi ketika Tuan Hakim menerima hadiah-hadiah dari oligarki.  Hakim merasakan beban moral dan dosa. Itu hadiah atas keputusan-keputusannya yang tidak adil.

Tuan Hakim akhirnya meledakkan dirinya sendiri. Itu simbol kehancuran moral yang ditimbulkan oleh sistem korup.

Busil dan Kotto mendiskusikan nasib mereka setelah kematian tuan mereka sang hakim. Apakah mereka memilih tunduk atau menolak oligarki?

Beranikah mereka tak menjadi The Jongos bagi oligarki, meskipun berarti mereka harus hidup sebagai gelandangan?

Karakter-karakter dalam skenario ini, terutama Tuan Hakim, ditampilkan dengan kompleksitas moral. Terjadi  pergulatan batin antara integritas dan korupsi.

Dialog yang tajam dan lucu, juga pemakaian simbolisme memperkuat pesan moral yang disampaikan.

-000-

Teater memang telah lama dipakai sebagai medium untuk menyampaikan kritik sosial. Mereka memberi suara kepada yang tertindas, dan mengajak penonton untuk berpikir kritis tentang isu-isu masyarakat. (1)
Membaca naskah The Jongos, saya pun teringat simbolisme dari  "The Crucible.”

Naskah ini ditulis oleh Arthur Miller pada tahun 1953. Drama ini menggambarkan perburuan penyihir Salem pada abad ke-17.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait