DECEMBER 9, 2022
Buku

Storytelling Melalui Puisi Esai tentang LGBT dan Lainnya

image
Sportyabc.com/kiriman

Mengapa hal- hal tabu lebih efektif disampaikan lewat sastra agar ikut memulai public discourse? Mengapa puisi esai memang diarahkan untuk memfiksikan true story, kisah sebenarnya, terutama isu yang masih menjadi tabu?

Sastra memiliki kemampuan unik untuk menyampaikan isu-isu tabu dengan cara yang lebih efektif dan halus. Ketika tema-tema yang sensitif, seperti LGBT, diskriminasi, atau konflik agama, dibahas melalui lapisan fiksi, sastra menciptakan “jarak aman” bagi penulis dan pembaca.

Pertama, alur  naratif serta karakter fiksi memungkinkan publik untuk merenungkan persoalan tersebut tanpa merasa langsung terancam. 

Baca Juga: Catatan Denny JA: Ayah, Semoga Abu Jasadmu Sampai ke Pantai Indonesia

Lapisan fiksi ini berperan sebagai jembatan yang membuat topik-topik berat dan sensitif lebih mudah diterima, membuka ruang bagi refleksi dan diskusi yang lebih terbuka dan empatik.

Kedua, lebih dari sekadar penyampaian informasi, sastra menembus ke ranah emosi. Ketika pembaca terlibat dalam kisah seorang tokoh yang menghadapi konflik identitas atau ketidakadilan sosial, misalnya, mereka tak hanya “mengetahui” permasalahan, tetapi ikut “merasakan” penderitaan dan dilema yang ada.

Dengan demikian, sastra menanamkan empati—perasaan yang memungkinkan kita memahami orang lain dari dalam, melampaui sekadar logika atau argumen. 

Baca Juga: Satrio Arismunandar dalam Diskusi SATUPENA Sebut Paus Fransiskus Membawa Nilai Inklusif dan Persatuan Antarumat Beragama

Empati ini, yang tumbuh dalam setiap kalimat puitis dan naratif, membuka hati dan pikiran, menciptakan ruang bagi penerimaan gagasan-gagasan baru yang mungkin sebelumnya ditolak atau dihindari.

ketiga, sastra membawa pengaruh yang kuat namun tidak konfrontatif. Lewat kisah atau puisi, gagasan yang mungkin menentang norma sosial ditanamkan dalam kesadaran pembaca dengan cara yang tidak langsung. 

Karya sastra yang menyentuh isu-isu tabu seperti kebebasan berekspresi atau perjuangan identitas bisa membentuk pola pikir baru yang mengakar secara halus. 

Baca Juga: Catatan Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?

Sebuah puisi atau novel tidak hanya hadir untuk sekali baca; ia tertinggal dalam pikiran pembaca, membentuk sudut pandang yang baru dan berkembang seiring waktu. 

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait