DECEMBER 9, 2022
News

Mengapa Mengurung Pikiranmu di Sangkar: Pengantar Buku ke-5 Lukisan Artificial Intelligence

image
(Sportyabc.com / Kiriman)

Oleh: Denny JA

SPORTYABC.COM - Di satu sore, di Milan, Italia tahun 2019, lama saya terdiam di ruang makan biara Santa Maria delle Grazie. Mata saya tak henti menatap lukisan di dinding. Itu lukisan sudah berusia 500 tahun lebih.

Judul lukisannya: "The Last Supper." Sang pelukis Leonardo da Vinci. Karya ini dilukis antara tahun 1495 dan 1498 atas permintaan Ludovico Sforza, Duke of Milan.

Baca Juga: 164 Wartawan Jadi Pelaku Judi Online, Pendiri AJI Prihatin

Ini satu mahakarya Renaisans, terkenal karena inovasinya dalam komposisi dan teknik. Alih-alih menggunakan teknik fresko tradisional, Leonardo bereksperimen dengan teknik tempera dan minyak di atas plester.

Ini pula yang menyebabkan degradasi cepat pada lukisan. Akibatnya lukisan itu memerlukan berbagai upaya restorasi selama berabad-abad.

Meskipun kondisinya telah terdegradasi, esensi artistik dan emosionalnya tetap bertahan.

Baca Juga: Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026: Indonesia Bertemu Jepang Hingga Australia

Lukisan ini menggambarkan momen dramatik dari Perjanjian Baru di Alkitab, tepatnya dari Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Perjamuan terakhir adalah saat Yesus mengadakan makan malam bersama murid-muridnya sebelum penyaliban. Ia mengungkapkan bahwa salah satu dari muridnya akan mengkhianatinya.

Ketika menatap lukisan itu, terjadi semacam kontak batin dan inspirasi. Tercatat keras dan mendalam di batin saya: alangkah asyiknya memvisualisasikan sebuah kisah dari teks ke lukisan.
-000-

Baca Juga: Diskusi Satupena, Satrio Arismunandar: Sama Seperti Menyanyi, untuk Menyentuh Pembaca, Menulis Harus Berangkat dari Hati

Lima tahun kemudian, di tahun 2024, saya intens berkenalan dengan aplikasi lukisan dari Artificial Intelligence. Cukup fasih saya mendayagunakan aplikasi itu, melukis hingga 300 lukisan.

Halaman:
Sumber: kiriman

Berita Terkait