DECEMBER 9, 2022
News

Mengapa Mengurung Pikiranmu di Sangkar: Pengantar Buku ke-5 Lukisan Artificial Intelligence

image
(Sportyabc.com / Kiriman)

Melalui lensa ini, AI dapat dipandang sebagai perpanjangan modern dari seniman yang memperluas kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri.

Sejarah seni juga menunjukkan inovasi alat telah menjadi bagian integral dari evolusi praktik artistik. Dari penggunaan pigmen alami oleh manusia prasejarah hingga mesin cetak dan teknologi digital, alat baru selalu diterima sebagai bagian dari perkembangan seni.

AI, dalam hal ini, hanyalah langkah berikutnya dalam evolusi tersebut.

Baca Juga: 164 Wartawan Jadi Pelaku Judi Online, Pendiri AJI Prihatin

Secara empiris, data menunjukkan penggunaan teknologi dalam seni semakin diterima dan diakui. Menurut survei oleh The Art Newspaper pada tahun 2022, sekitar 59% seniman kontemporer menggunakan teknologi digital dalam proses kreatif mereka.

Dan kini 27% pelukis telah bereksperimen dengan AI.  Pertumbuhan pasar seni digital, seperti yang dilaporkan oleh Hiscox Online Art Trade Report 2021, menunjukkan peningkatan sebesar 15% per tahun. Hal ini mencerminkan penerimaan yang luas terhadap teknologi, termasuk AI, dalam dunia seni.

Pengakuan terhadap karya seni yang dibantu AI juga semakin meningkat. Contoh yang menonjol adalah "Portrait of Edmond de Belamy," yang dijual di Christie's Auction House pada tahun 2018. Harga lukisan AI itu $432,500, atau 6 miliar rupiah.

Baca Juga: Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026: Indonesia Bertemu Jepang Hingga Australia

Karya ini dihasilkan dengan bantuan AI dan diakui sebagai karya seni yang sah. Penghargaan dalam kompetisi seni internasional untuk karya-karya yang dibantu AI juga menunjukkan komunitas seni mengakui validitas dan nilai dari karya-karya ini.

Selain itu, penting untuk dicatat input kreatif dari seniman tetap menjadi elemen kunci dalam proses ini. Seniman memberikan instruksi spesifik mengenai tema, gaya, dan elemen visual kepada AI, dan AI bekerja berdasarkan parameter.

Inilah yang saya alami. Sang seniman tetap harus mengedit dan menyesuaikan hasil hingga karya akhir sepenuhnya mencerminkan visinya.

Baca Juga: Diskusi Satupena, Satrio Arismunandar: Sama Seperti Menyanyi, untuk Menyentuh Pembaca, Menulis Harus Berangkat dari Hati

AI tidak memiliki kesadaran atau niat artistik; ini adalah alat yang memproses dan menghasilkan berdasarkan data yang diberikan.

Halaman:
Sumber: kiriman

Berita Terkait