Hukum Merayakan Maulid Nabi Apakah Bidah ?
- Penulis : Rhesa Ivan
- Kamis, 12 September 2024 18:15 WIB

SPORTYABC.COM –Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dimulai pada tahun 230 Hijriah, diprakarsai oleh Dinasti Syi'ah Fatimiyah di Mesir.
Dinasti ini tidak hanya merayakan hari lahir Nabi, tetapi juga merayakan lahir orang-orang terkenal seperti Hasan, Husain, Fatimah, Ali, dan para khalifah.
Kegiatan tersebut terus berlanjut, terutama di Iran, di mana perayaan ini masih menjadi tradisi yang penting.
Baca Juga: Inilah Dua Amalan di Bulan Maulid Menurut Ustadz Abdul Somad
Namun, perayaan tersebut telah menimbulkan kontroversi di kalangan Sunni, dengan banyak yang mengkritik ajaran tersebut berasal dari kepercayaan Syiah, yang mengklaim bahwa ajaran tersebut menyimpang dari sistem Islam tradisional.
Perayaan maulid sering kali mencakup pembacaan Maulid dan berbagai bentuk dzikir, yang diyakini dapat menghubungkan mereka dengan roh Nabi, sebuah gagasan yang banyak ditentang oleh komunitas Sunni.
Banyak cendekiawan Sunni yang salah menerapkan perayaan tersebut. Keyakinan Syiah termasuk tidak menghormati para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dan mengklaim bahwa Al-Quran tidak lengkap.
Baca Juga: Berziarah ke Borobudur, Denny JA Terhubung ke Masa Silam
Konteks historis ini tidak hanya menyoroti perbedaan antara interpretasi Sunni dan Syiah, tetapi juga menyoroti konflik budaya dan teologis di sekitar perayaan tersebut, yang mencerminkan perpecahan sektarian yang lebih luas dalam komunitas Muslim.
Kaum Syiah memulai kegiatan tersebut di bawah pengaruh perayaan ulang tahun Yesus oleh orang Romawi.
Para cendekiawan akan setuju bahwa Nabi Muhammad tidak pernah merayakan hari kelahirannya dengan cara tersebut.
Kebiasaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad muncul di kalangan Syiah sebagai respons terhadap pengaruh budaya Kekaisaran Romawi Bizantium, terutama selama mereka berada di Mesir.
Baca Juga: Kunci Sukses Denny JA di Semua Bidang Ada dalam Buku Terbarunya
Mengamati tradisi Romawi yang merayakan kelahiran Yesus, para ulama Syiah mengusulkan perayaan serupa untuk Nabi, yang kemudian berujung pada pembentukan kegiatan perayaan tersebut.