DECEMBER 9, 2022
Kolom

Tafsir Humanis Ibadah Kurban: Respon atas Esai Denny JA soal Kurban Hewan di Era Animal Right

image
Pendiri Muslimah Reformis Foundation Musdah Mulia.

Beberapa potensi bahaya dalam proses penyembelihan sering dialami petugas penyembelih hewan kurban, antara lain tertendang sapi saat mengikat atau handling sapi (hewan kurban), tersayat pisau, terhantam kepala saat sapi tiba-tiba bergerak hingga tertimpa hook/pisau yang jatuh dari atas. 

Potensi bahaya tersebut tidak akan terjadi jika petugas penyembelih sudah menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Tapi, umumnya mereka tidak menggunakan APD.

Mendapatkan tempat penyembelihan yang memenuhi syarat tidaklah mudah. Karena itu, jika penyembelihan hewan dianggap sebagai bentuk ibadah kurban maka sebaiknya hanya dilakukan di tempat penyembelihan hewan yang sudah diakui dan dilakukan oleh tenaga profesional dalam bidangnya. 

Dengan demikian tidak lagi dijumpai penyembelihan di berbagai lokasi yang ujungnya menghasilkan limbah kotoran hewan yang membuat bencana dalam masyarakat. Selain itu, juga menghindarkan anak-anak dari melihat proses penyembelihan yang dalam kajian psikologi anak, banyak menimbulkan trauma bagi kehidupan anak-anak.

Faktanya, penyembelihan dan pembagian hewan kurban umumnya digelar di sekitar halaman masjid, musalla, perkantoran atau area lain yang biasanya sempit, dekat dan bahkan menyatu dengan pemukiman warga yang sangat padat dengan anak-anak. 

Tidak jarang, bercak darah dan kotoran hewan kurban berceceran di tempat penyembelihan tersebut. Sebagian orang menganggap hal ini sepele, padahal ini masalah besar bagi lingkungan. 

Apalagi, limbah kotoran hewan dan darahnya itu malah banyak dibuang ke selokan atau dibersihkan di sungai. Tambahan pula penggunaan kantong-kantong plastik untuk wadah daging kurban sangat membahayakan kesehatan selain juga merusak ekosistem.

Penting diketahui, pembuangan limbah hewan kurban berdampak buruk bagi lingkungan. Salah satunya menyebabkan penyakit menular seperti Hepatitis, Tifus, dan Penyakit Mata dan Kuku (PMK). Bahkan, sangat potensial merusak ekosistem yang ada di sungai. 

Apalagi terjadi cukup masif sehingga mengakibatkan dampak yang sangat luas. Selain itu, sektor peternakan juga turut berkontribusi menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang cukup signifikan dan berdampak terhadap pemanasan global, yang pada gilirannya mendorong laju perubahan iklim lebih cepat. Salah satu material emisi GRK yang dihasilkan oleh ternak sapi yaitu gas metana (CH4).

Masalah lain terkait higienitas pengelolaan daging kurban. Petugas penyembelihan harus memastikan daging yang dibagikan itu aman dikonsumsi demi mencegah penularan penyakit. Perlu dipahami bahwa membekukan daging tidak membunuh bakteri tetapi hanya memperlambat pertumbuhannya saja.

Halaman:
Sumber: kiriman Denny JA

Berita Terkait