Tafsir Humanis Ibadah Kurban: Respon atas Esai Denny JA soal Kurban Hewan di Era Animal Right
- Penulis : Rhesa Ivan
- Senin, 05 Agustus 2024 10:10 WIB

Paling tidak ada tiga tujuan hakiki ibadah kurban. Pertama, sebagai bentuk ekspresi keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Pengamalan kurban ini bersifat ta’abbudi, namun tidak harus sesuai dengan petunjuk tekstual ayat dan hadis. Sebab, dalam berbagai teks tersebut juga dinyatakan bahwa memang secara fisik yang disembelih adalah hewan kurban, namun hakikat yang sampai pada Allah swt adalah wujud ketakwaan manusia.
Tujuan kedua, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah swt atau semacam tahadduts bin ni’mah. Terakhir, tujuannya sebagai ungkapan rasa simpati dan empati kepada sesama manusia. Semacam solidaritas dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dengan begitu, tujuan ibadah kurban mempunyai dua dimensi pokok, yaitu dimensi vertikal atau hubungan dengan Allah Swt sebagai landasan iman dan takwa. Lalu, dimensi horizontal atau hubungan sosial dengan sesama manusia. Itulah yang dijelaskan dalam terma Islam hablun minallah wa hablun minannas.
Ketiga tujuan tersebut dapat dicapai dengan lebih sempurna tanpa harus menjadikan hewan ternak sebagai kurban ritus agama.
Sudah tiba saatnya umat Islam mengedepankan makna hakiki Idul Adha dan semangat kurban, yakni penguatan kualitas spiritual masyarakat melalui upaya-upaya persatuan dan persaudaraan seiman dan solidaritas kemanusiaan.
Idul Adha bukan lagi diramaikan dengan banyaknya kerumunan hewan kurban yang akan disembelih dan kemudian meninggalkan setumpuk masalah kemanusiaan dan lingkungan seperti diuraikan sebelumnya.
Idul Adha dan ritus kurban penting dirayakan dengan penguatan komitmen untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, terutama dalam diri para ulama, elite pemimpin dan penguasa.
Dengan begitu akan terbentuk masyarakat yang bersih, sejahtera, maju dan berkeadaban (baldatun thayyibah wa rabun ghafur).
Akhirnya, marilah kita berkurban dengan pendekatan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai bagian integral dari misi menjalankan amar makruf nahi munkar demi terwujudnya visi kemanusiaan kita yaitu khalifah fil ardh.***
*Penulis adalah Penggiat Pemikiran Islam, pendiri Muslimah Reformis Foundation.