Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA
- Penulis : Rhesa Ivan
- Minggu, 25 Agustus 2024 20:20 WIB

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

Paus ke Indonesia #1

Paus ke Indonesia #2

Paus ke Indonesia #3
Sementara dalam Al-Insyirah Ayat 5 - 6 tertulis cerita bahwa Rasulullah Muhammad SAW pun sama seperti manusia lain, pernah merasakan keresahan hati. Allah SWT kemudian menurunkan Al-Insyirah sebagai penghiburan dan sekaligus pengharapan: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesusahan itu ada kebahagiaan”.
Sedangkan dalam Alkitab, persoalan pengharapan itu ada dalam Amsal 17:22. Bahkan Kitab Amsal tidak hanya berbicara tentang pengharapan, tetapi juga kebahagiaan lewat ungkapan. Ayat itu berbunyi begini: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
Lukisan-lukisan Denny jelas menyarankan secara visual ayat-ayat mulia itu.
Lukisan-lukisan tersebut tampil realis dengan warna-warna “sensasional” yang tersusun dalam komposisi rapi, cerah, tajam, dan tegas. Bauran gradasi berhasil menampilkan anasir gelap-terang bayangan serta draperi, sehingga setiap obyek dan figur tampil hidup. Pencapaian yang menyenangkan untuk gubahan lukisan AI!
Dalam pertunjukan ini, Denny juga menghadirkan tema-tema aktual dan bahkan kontekstual. Lukisan itu berjudul Paus Mencuci Kaki Rakyat Indonesia.
Lukisan menggambarkan Paus sedang membasuh kaki seorang pemuda di tepian sungai yang mengalir jernih. Proses pembasuhan itu disaksikan oleh banyak orang.
Dalam satu lukisannya, Paus diperlihatkan sedang membasuh kaki seorang penganut Hindu. Sementara pada lukisan lain, Paus sedang membasuh kaki seorang Muslim di sehampar kedung nan bening. Tak jauh dari tempat pembasuhan itu tampak menjulang menara dan kubah masjid.
Denny tahu benar hikayat Paus Fransiskus membasuh kaki. Dan itu dimulai ketika pada Maret 2024 lalu, Paus Fransiskus berada di Penjara Rebibbia, Roma, untuk merayakan Misa Perjamuan Terakhir Kamis Putih bersama narapidana.
Di situ, Paus membasuh kaki para narapidana, yang dimaknai sebagai sikap yang menghormati kesetaraan dan kerendah-hatian.
Namun, Paus Fransiskus sendiri memulai tradisi itu pada tahun 2018 ketika berada di Penjara Regina Coeli, Roma. Suatu ritual yang meneruskan tradisi basuh kaki yang dilakukan Paus Yohanes XXIII pada 1959.