DECEMBER 9, 2022
Kolom

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

Basuh kaki adalah wujud perbuatan dari pikiran dan hati yang mempercayai bahwa semua orang adalah sama dan setara. Dan itu dalam Alkitab, lewat Yohanes 13:13, Matius 16:24, serta Lukas 9:23, dimaktubkan sebagai pengingatan. 

Guru harus rela berendah hati agar dapat melakukan pekerjaan seorang pelayan. Guru, atau Paus, adalah pelayan.

Lukisan yang manis visual dan manis ini, lagi-lagi hanya imajinasi Denny belaka. Karena menurutnya, dalam lawatannya ke Indonesia tidak ada ritus Paus mencuci kaki rakyat.

“Lukisan-lukisan ini hanya imajinasi kerinduan kita akan pemimpin yang bergerak dengan hati, dan secara otentik melayani kemanusiaan. Apa pun agamanya, negaranya, gendernya, etniknya, dan identitas kulturalnya,” katanya.

Dan ini memang sejalan dengan makna kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia yang mengusung tema “Iman - Persaudaraan - Bela Rasa”. Faith - Fraternity - Compassion.

Denny memang berimajinasi. Namun melihat aspirasinya, dan meraba apa yang bakal muncul dalam peristiwa nyata, bukannya tidak mungkin sang khayal itu akan jadi “imajinasi faktual”.

Lantaran umumnya, yang digubah dalam seni bermuatan tanda-tanda zaman adalah realitas yang akan menjelma sebagai kejadian. Ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Marshall McLuhan: seniman adalah antenna of society, atau antena sosial.

Perangkat Akal Imitasi sebagai Asisten Seni

Kembali kepada visualisasinya, sekali lagi, Denny menggubah lukisan-lukisan itu dengan menggunakan perangkat AI, atau Akal Imitasi, atau Artificial Intelligence.

Perangkat teknologi “radikal” yang banyak dibicarakan pada akhir-akhir ini, tapi belum terlampau banyak dilakukan orang untuk mencipta karya formal. Sehingga (selama ini) yang terlahir sekadar karya eksperimental. Tidak sebagaimana karya-karya Denny, yang seratus persen diposisikan sebagai cipta seni final.

Halaman:

Berita Terkait