DECEMBER 9, 2022
Kolom

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

Menarik diketahui, dalam melukis, Denny menggunakan banyak aplikasi yang berkait dengan AI. Aplikasi itu ketemu setelah ia melakukan percobaan berulang kali. Atas aplikasi yang diketemukan itu, ia lantas bisa membuat perintah lewat teks, sehingga muncul gambar dalam banyak variasi. 

Apabila wujud dari AI itu kurang cocok dengan gagasan yang terkonsep dalam pikirannya, setiap variasi bisa diperintahkan lagi, sehingga muncul variasi-variasi lain.

Begitu seterusnya. Jikalau ia menghendaki banyak unsur, maka unsur-unsur itu akan dicari dari aplikasi lain. Atau bahkan diambil dari footage atau gambar hasil rekaman sendiri yang ia punya. Atau yang sengaja ia beli, agar tidak melanggar hak cipta.

Semua unsur itu kemudian digabungkan, dan lantas dicetak di atas kanvas.

Kita bisa membayangkan betapa kerumitan akan muncul ketika pelukis harus menggubah adegan-adegan kolosal yang memerlukan kompleksitas pergerakan.

Ada figur yang menunduk, ada yang tegak, ada yang jongkok. Ada figur yang tersenyum simpul, ada yang muram, ada yang tertawa lebar, dan ada yang menitikkan air mata.

Ada satwa yang melompat kabur, ada tetumbuhan yang sedang tumbuh subur. Di sini, kemampuan seorang pelukis dalam memverbalisasi bentuk - demi memformat perintah atas perangkat AI - sangat diperlukan.

Denny mampu melakukan itu dengan baik. Ia menyebut bahwa AI adalah asisten seni yang secara cermat ia didik Lalu, untuk memasukkan unsur rasa serta emosi, Denny melakukan campur tangan dengn membuat sentuhan langsung dengan kuas, pena, pisau palet, dan sebagainya.

Sehingga memunculkan sapuan dan garis manual, goresan dan pulasan spontan, tekstur, lelehan cat, dan semacamnya. 

Intervensi manual ini sering berfungsi sebagai finishing touch, dan menjadikan lukisan sebagai karya yang punya sentuhan jiwa pribadi. Agar karya tidak didominasi oleh perupaan hasil program text-to-image generator yang difasilitasi mesin generatif AI.

Halaman:

Berita Terkait