DECEMBER 9, 2022
Kolom

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

Di situ, STA mengatakan bahwa kebudayaan Renaissance telah sampai pada ujungnya, sehingga Kebudayaan Baru harus lahir. Kebudayaan Baru itu harus beranak Kesenian Baru, yakni kesenian yang secara jelas merefleksikan hati nurani manusia, dan merekam serta mendokumentasi suara-suara hati dan pikiran yang baik dan luhur.

Dengan begitu, seni harus berkonteks dengan suasana, situasi, dan kejadian di masyarakat. Lukisan-lukisan AI karya Denny adalah jawaban atas itu. Lukisan Denny adalah “lukisan masa depan” itu.

Sebagai catatan ujung, kita layak melihat kembali siapa Denny JA. Ia adalah pengamat sosial-politik-ekonomi dan pendiri Lingkaran Survei Indonesia. Sejak lama, sosok kelahiran Palembang 1963 ini memiliki minat seni.

Dan minat itu tidak hanya dilakoni sebagai intermezzo, namun didalami sebagai “pekerjaan wajib”. Itu sebabnya banyak yang mahfum tatkala Denny menghasilkan puisi.

Segubahan sastra yang bisa ditengarai sebagai estetisasi dari esai-esai kemasyarakatan yang sering ia bikin.

Pada tahun 2022, ketika pandemi Covid-19 mulai mereda, ia masuk ke arena seni lukis. Dan hasrat itu ia lakoni sampai sekarang tanpa henti, dengan menggubah karya-karya bermedium baru: lukisan AI - Akal Imitasi, Artificial Intelligence! ***

Penulis merupakan kritikus seni rupa, penulis puluhan buku budaya dan seni, dan narasumber Koleksi Benda Seni Istana Presiden Republik Indonesia. 

Halaman:

Berita Terkait