DECEMBER 9, 2022
Kolom

Soal Kurban Hewan di Era Animal Rights, Memperluas Tafsir Kurban Hewan yang Tak Sebatas Bahimatul An’am

image
Ahmadie Thaha

Oleh: Ahmadie Thaha
SPORTYABC.COM -
Alkisah, Rabi’ah Adawiyah, sufi perempuan dari abad kedelapan yang berasal dari Basrah, Irak, sedang menaiki gunung tempatnya merenung.

Kambing liar dan kijang berkumpul di sekelilingnya, seolah terhipnotis oleh kehadirannya. Tiba-tiba, Hasan Basri, seorang sufi lain, muncul di tempat itu. Namun, kedatangannya justru membuat semua binatang pergi menjauh.

Tingkah laku hewan-hewan itu membuat Hasan kebingungan. Ia bertanya kepada Rabi’ah, “Mengapa mereka menjauh dariku, padahal mereka begitu akrab denganmu?” 

Rabi’ah kemudian bertanya, “Apa yang kamu makan hari ini?” Hasan menjawab, “Sup.” Mendengar itu,

Rabi’ah langsung berkata: “Kamu memakan lemak mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak menjauh darimu?”

Kisah serupa diceritakan oleh ‘Abdul Karim al-Qusyairi tentang Ibrahim bin Adham. Ketika sufi yang pernah menjadi pemburu ini sedang mengejar seekor kijang, ia mendengar suara yang bertanya, “Ibrahim, apakah untuk ini Kami menciptakanmu?”

Kesadaran pun menyergap Ibrahim. Ia segera turun dari kudanya, melepas pakaian mewahnya, dan memilih untuk menjalani kehidupan sebagai seorang sufi pengembara.

Dua kisah di atas saya kutip untuk memberikan konteks pada artikel Shahid ‘Ali Muttaqi. Karya tulisnya, berjudul “An Islamic Perspective Against Animal Sacrifice,” dirujuk oleh Sdr. Denny Januar Ali dalam artikel renungan Idul Adha, “Akan Menguatkah Tafsir yang Tak Lagi Harus Hewan Dijadikan Kurban Ritus Agama.”

Shahid berpendapat, sudah saatnya umat Islam tidak lagi menyembelih hewan secara massal sebagai bagian dari ritus agama. 

Menurutnya, yang penting dalam kurban bukanlah fisik hewan yang dikorbankan, melainkan ekspresi ketakwaan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, surat Al-Hajj ayat 37. Dalam narasi ini, kurban hewan tidaklah esensial.

Halaman:
Sumber: kiriman

Berita Terkait